Pidato Presiden BEM UM-Go, Yahya : Jangan Bangun Tembok, Tetapi Bangun Jembatan

KAMPUS PENCERAHAN – Ada yang menarik dari orasi ilmiah yang disampaikan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) periode 2020-2021, Universitas Muhammadiyah Gorontalo, di gedung serbaguna David Bobihue Akib, Jum’at kemarin (20/3/2020). Iya, Presiden BEM, Yahya Husain saat itu mengatakan untuk tidak membangun tembok diantara mahasiswa.

“Program kerja yang akan kami tawarkan kepada teman-teman semua, tentu akan disinkronkan dengan BEM di tingkat fakultas. Oleh karenanya jangan membangun tembok diantara kita semua, tetapi bangunlah jembatan demi kemajuan kampus tercinta yang unggul di tahun 2024,” ungkapnya.

Meruntuhkan tembok dalam diri, kata Yahya, memang adalah pekerjaan yang butuh proses. Tapi bagaimanapun hal itu harus dilakukan, sebab itu adalah jalan satu-satunya menuju persatuan dan rekonsiliasi. “Setelah tembok itu runtuh, waktunya bagi kita untuk membangun kembali jembatan untuk menjangkau dan menghubungkan kembali perbedaan yang pernah kita rasakan,” terangnya.

Bagi Yahya, amanah ini tidak dapat dilaksanakan dengan baik, jika mahasiswa UM-Go masih terus berkelompok. “Jangan lagi ada perdebatan antara mahasiswa mengenai presiden BEM, sebab kami hadir disini untuk seluruh mahasiswa, bukan kelompok mahasiswa. Dan tentunya amanah yang diberikan ini, tidak dapat kami laksanakan tanpa bantuan seluruh mahasiswa. Oleh karena itu mari kita bangun sama-sama kepengurusan BEM yang mengalami kevakuman,” tambahnya.

Seperti diketahui, dalam pemilihan presiden BEM kemarin, sempat terjadi insiden baku hantam di lingkungan kampus UM-Go. Namun insiden ini tidak berlangsung lama. “Ada makna yang dapat kita ambil dari polemik yang terjadi sebelumnya. Pertama, organsasi tertinggi UM-Go yakni BEM sudah memiliki nilai juang kepada seluruh mahasiswa. Kedua, sebagai slogan mahasiswa dalam memperjuangkan kebenaran, BEM tak akan pernah mati,” pungkasnya.